Pengajuan Administrasi dan Bebas Pustaka dapat dilakukan dengan mengklik tautan berikut : Pengajuan Administrasi

Choose Language:  

ID | EN | SU

Repository Universitas Padjadjaran

Kajian Tingkat Kematangan Buah Kakao (Theobroma cacao, L.) var. Forastero Terhadap Karakteristik Antioksidan dan Dinamika Mikroorganisme Selama Proses Pengeringan

240130190003
Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Belum Login

Login dengan Email Unpad untuk mengakses berkas lengkap

Kajian Tingkat Kematangan Buah Kakao (Theobroma cacao, L.) var. Forast...

Perpustakaan Universitas Padjadjaran

Kata Kunci

Biji Kakao, Pengeringan, Tanpa Fermentasi, Tingkat Kematangan

Kajian Tingkat Kematangan Buah Kakao (Theobroma cacao, L.) var. Forastero Terhadap Karakteristik Antioksidan dan Dinamika Mikroorganisme Selama Proses Pengeringan

240130190003
Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Indonesia
Abstrak

Indonesia termasuk ke dalam salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Namun sayangnya, Indonesia dikenal memiliki mutu biji kakao yang rendah karena sebagian besar petani tidak melakukan fermentasi pada kakao sehingga rasa dan aroma yang dihasilkan kurang baik. Petani kakao merasa bahwa melakukan tahap fermentasi memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak serta keuntungan yang diperoleh dari penjualan biji kakao fermentasi tidak berbeda jauh dengan biji kakao tanpa fermentasi. Salah satu proses penanganan untuk meningkatkan mutu biji kakao adalah pengeringan. Mutu fisik maupun kimia pada kakao juga dipengaruhi oleh tingkat kematangan, varietas, lingkungan tempat tumbuh dan pengolahannya Kematangan buah kakao terbagi menjadi empat kelas yaitu tingkat kematangan mentah, matang (B), matang (A) dan matang (A+). Masing-masing kelas tersebut akan membentuk sifat fisik dan komposisi kimia yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan klasifikasi tingkat kematangan buah kakao berdasarkan nilai LAB serta mencari hubungan antara tingkat kematangan dengan kandungan polifenol, aktivitas antioksidan, kadar teobromin, populasi khamir, BAL, BAA, dan kapang pada biji kakao selama pengeringan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yang dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik. Hasil menunjukkan bahwa ada klasifikasi tingkat kematangan yang dapat digunakan sebagai acuan tingkat kematangan buah kakao berdasarkan hari pemetikan dan nilai L*, a* dan b* yaitu tingkat kematangan mentah, matang (B), matang (A), dan matang (A+). Ada hubungan antara tingkat kematangan buah kakao terhadap kandungan polifenol, aktivitas antioksidan dan kadar teobromin biji kakao selama pengeringan. Selama pengeringan terjadi kenaikan kadar teobromin, kandungan polifenol dan aktivitas antioksidan biji kakao pada semua tingkat kematangan, mentah, matang (B), matang (A) dan matang (A+). Ada pola perubahan jumlah mikroba yaitu yeast, bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan kapang dalam biji kakao dengan tingkat kematangan berbeda selama proses pengeringan. Selama proses pengeringan terjadi perubahan jumlah mikroba baik yeast, BAL, BAA dan kapang yang menunjukkan adanya aktivitas fermentasi dalam biji kakao kering.

Akses Berkas

Abstrak
Download
Daftar Isi
Download
Bab 2Login diperlukan
Bab 3Login diperlukan
Bab 4Login diperlukan
Bab 5Login diperlukan
Bab 6Tidak tersedia
LampiranLogin diperlukan
Daftar Pustaka
Download
Full TextTidak tersedia

Metadata

Bahasa
Indonesia
Tanggal Upload
28 Juli 2023
Status Publikasi
Tidak Dipublikasi
ID Pustaka
Kata Kunci
Biji Kakao, Pengeringan, Tanpa Fermentasi, Tingkat Kematangan
Abstrak
Indonesia termasuk ke dalam salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Namun sayangnya, Indonesia dikenal memiliki mutu biji kakao yang rendah karena sebagian besar petani tidak melakukan fermentasi pada kakao sehingga rasa dan aroma yang dihasilkan kurang baik. Petani kakao merasa bahwa melakukan tahap fermentasi memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak serta keuntungan yang diperoleh dari penjualan biji kakao fermentasi tidak berbeda jauh dengan biji kakao tanpa fermentasi. Salah satu proses penanganan untuk meningkatkan mutu biji kakao adalah pengeringan. Mutu fisik maupun kimia pada kakao juga dipengaruhi oleh tingkat kematangan, varietas, lingkungan tempat tumbuh dan pengolahannya Kematangan buah kakao terbagi menjadi empat kelas yaitu tingkat kematangan mentah, matang (B), matang (A) dan matang (A+). Masing-masing kelas tersebut akan membentuk sifat fisik dan komposisi kimia yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan klasifikasi tingkat kematangan buah kakao berdasarkan nilai LAB serta mencari hubungan antara tingkat kematangan dengan kandungan polifenol, aktivitas antioksidan, kadar teobromin, populasi khamir, BAL, BAA, dan kapang pada biji kakao selama pengeringan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental yang dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik. Hasil menunjukkan bahwa ada klasifikasi tingkat kematangan yang dapat digunakan sebagai acuan tingkat kematangan buah kakao berdasarkan hari pemetikan dan nilai L*, a* dan b* yaitu tingkat kematangan mentah, matang (B), matang (A), dan matang (A+). Ada hubungan antara tingkat kematangan buah kakao terhadap kandungan polifenol, aktivitas antioksidan dan kadar teobromin biji kakao selama pengeringan. Selama pengeringan terjadi kenaikan kadar teobromin, kandungan polifenol dan aktivitas antioksidan biji kakao pada semua tingkat kematangan, mentah, matang (B), matang (A) dan matang (A+). Ada pola perubahan jumlah mikroba yaitu yeast, bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan kapang dalam biji kakao dengan tingkat kematangan berbeda selama proses pengeringan. Selama proses pengeringan terjadi perubahan jumlah mikroba baik yeast, BAL, BAA dan kapang yang menunjukkan adanya aktivitas fermentasi dalam biji kakao kering.

Cite This Paper

APA Style

Tidak dapat membuat sitasi

Perlu Bantuan?

Hubungi kami melalui Email, Whatsapp atau Media Sosial.

Kembali ke Repository