PROSES ADOPSI TEKNOLOGI FERMENTASI JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG PADA PETERNAKAN RAKYAT DI KABUPATEN BULUKUMBA, SULAWESI SELATAN

Main Author: Abdullah, Agustina
Other Authors: DRPM Unpad
Format: Article info application/pdf eJournal
Language: ind
Published: Sosiohumaniora , 2016
Subjects:
Online Access: http://jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/view/9349
http://jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/view/9349/4173
Table of Contents:
  • Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses adopsi teknologi fermentasi jerami padi sebagaipakan sapi potong pada peternakan rakyat, di Kabupaten Bulukumba Propinsi Sulawesi Selatan. Penelitiandilaksanakan dengan metode survey. Penentuan sampel sebagai tahap pertama adalah kecamatan sebagai lokasipenelitian dilakukan berdasarkan kriteria kepadatan ternak berdasarkan lahan usahatani dengan lokasi kecamatandalam kategori padat adalah kecamatan Herlang dan kategori sedang/jarang adalah kecamatan Bulukumpa. Jumlahresponden peternak di kecamatan Herlang 118 peternak, dan kecamatan Bulukumpa 136 peternak, dengan totalsampel peternak adalah 254 peternak. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan observasi,wawancara, kuesioner, dokumentasi/studi literatur, focus group discussion. Penelitian ini menganalisis kecepatanproses adopsi teknologi fermentasi jerami padi sebagai pakan sapi potong. Hasil penelitian menunjukkan bahwapengambilan keputusan peternak dalam proses adopsi teknologi fermentasi jerami padi sebagai pakan sapi potongmenunjukkan bahwa tahap mencoba hingga mengadopsi teknologi pakan, dibutuhkan waktu yaitu lebih dari3-5 minggu sebanyak 46,03% responden, lebih dari 1-3 minggu sebanyak 42,86% responden, dan 0-1 minggusebanyak 11,11%. Adanya peternak yang cepat dan lambat dalam mengadopsi suatu inovasi, karena masingmasingpeternak memiliki kecepatan adopsi yang berbeda-beda. Secara umum, kecepatan adopsi inovasi teknologifermentasi jerami padi sebagai pakan sebagian besar masih berada dalam kategori pengadopsi lambat. Lambatnyaproses adopsi disebabkan oleh kurangnya minat pada inovasi teknologi akibat rendahnya pengetahuan dalampenerapan inovasi teknologi pakan. Penyebab lainnya adalah kurang lancarnya komunikasi informasi tentanginovasi teknologi pakan sehingga peternak takut mengambil resiko jika gagal dalam penerapannya.